Kebijakan menutup aktivitas galian C oleh pemerintah mematikan mata pencaharian masyarakat. Penutupan galian C dilakukan tanpa kajian sosial dan ekonomi yang matang.
Salah satu pengunjuk rasa Stewart Tuwatanassy, mengatakan kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap ribuan sopir, buruh, hingga pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pengangkutan pasir dan batu.
“Penutupan galian C ini sama saja dengan mematikan kehidupan kami. Dari hasil mengangkut pasir dan batu, kami menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak. Kalau ini ditutup, lalu kami harus kerja apa?” kata Stewart, ketika melakukan aksi unjuk rasa di pelataran Baileo Karang Panjang Ambon, Senin (09/02/26).
Ditegaskan, para sopir tidak menolak aturan pemerintah, namun meminta adanya penataan dan pengawasan yang adil, bukan penghentian total aktivitas galian C.
Menurutnya, kami para sopir hanya meminta pemerintah menata dan mengawasi, bukan mematikan usaha rakyat. Negara harus hadir melindungi rakyat kecil.
Para sopir juga menyoroti penegakan aturan di jembatan timbang yang dinilai tidak adil. Menurut mereka, muatan dump truck pengangkut batuan dibatasi secara ketat, sementara kendaraan pengangkut kayu dengan muatan berlebih jarang ditertibkan.










