SELAMA 80 tahun, Rosalina Kamba dan orang-orang sepertinya di Filipina hidup dalam ketidakpastian.
Terlahir dari ibu Filipina dan ayah Jepang, saat lahir mereka dianggap sebagai warga negara Jepang.
Namun, ketika ayah mereka menghilang dalam kekacauan di akhir Perang Dunia Kedua, bersama dengan dokumen yang membuktikan hubungan tersebut, maka kewarganegaraan itu hilang.
Kamba (95) datang ke Jepang untuk pertama kalinya dengan dukungan dari pemerintah. Ia adalah salah satu dari sekitar 50 orang di Filipina yang masih berjuang untuk diakui sebagai warga negara Jepang.
Rosita Fernandez Busalla, putri Kamba, mengatakan bahwa ibunya selalu ingin mengunjungi kampung halaman ayahnya di Jepang, dan hari itu akhirnya tiba. Ia mengatakan mereka berdua sangat gembira tetapi juga gugup.
Ayah Kamba bekerja sebagai petani di Pulau Mindanao. Ia mengatakan seingatnya ayahnya hampir tidak pernah hadir dalam hidupnya sejak ia masih kecil, tetapi ia ingat pernah bertemu dengannya sekali saat berusia sekitar 10 tahun, dikutip dari NHK World.
Kamba berencana melakukan perjalanan ke Prefektur Tottori untuk mengunjungi makam ayahnya pada Jumat (30/01/2026). ***










